Alarm GASPOLL hari Ke Lima “Ekskavator Masih Beroperasi, Limbah Menghancurkan Pohon Cinta — Publik Teriak ‘Kapolres Diam, Nyawa dan Lingkungan Terancam!’”

Aktual Gorontalo.com – Pohuwato, Kasus kematian penambang di PETI Bulangita terus memicu gelombang kritik publik. Hingga hari kelima pasca tragedi, saksi kunci belum dipanggil, korban tidak diautopsi, dan ekskavator yang diduga menjadi penyebab kematian masih beroperasi di lokasi.
GASSPOLL, gabungan Ormas Pohuwato Lipu Lami, menegaskan bahwa budaya impunitas terus berlangsung: pola lama yang sama dari kasus-kasus tambang ilegal sebelumnya kini kembali muncul, menimbulkan pertanyaan serius tentang integritas dan keberpihakan aparat Polres Pohuwato.
—
Aksi Unjuk Rasa Diumumkan: Senin, 17 November 2025
Koordinator GASSPOLL sekaligus Ketua DPD AKPERSI Gorontalo, Imran Uno, menegaskan Kamis (13/11/2025):
> “Empat hari ini bukan sekadar tanggal. Ini panggilan sejarah. Publik menunggu keadilan, bukan alasan birokrasi. Jika saksi kunci tidak dipanggil, aksi jilid III akan berlangsung lebih besar, dan suara masyarakat tidak bisa dibungkam.”
Lebih lanjut, GASSPOLL telah memberitahukan rencana aksi unjuk rasa pada Sabtu, 15 November 2025, yang akan berlangsung Senin, 17 November 2025. Aksi ini menuntut penegakan hukum tuntas atas:

1. Kematian penambang di PETI Bulangita
2. Ekskavator yang masih beroperasi pasca tragedi
3. Limbah tambang yang kini mengancam ikon wisata Pohon Cinta
> “Setiap hari yang terlewatkan tanpa tindakan nyata adalah peluang bagi mereka yang ingin menunda kebenaran. Bulangita bukan sekadar berita — ini ujian bagi integritas hukum dan keberpihakan aparat terhadap manusia dan lingkungan,” tambah Imran Uno.
—
Limbah Tambang Menghantam Pohon Cinta
Masyarakat setempat mengungkapkan kekhawatiran serius terkait limbah tambang Bulangita yang kini mulai menutupi area Pohon Cinta, ikon wisata kebanggaan rakyat Pohuwato.
> “Lumpur sudah mengendap, mangrove mati, aliran air tersumbat. Pohon Cinta bisa rusak total kalau aparat tidak segera bertindak,” kata Upik, warga setempat.
GASSPOLL menegaskan bahwa dampak ekologis ini bukan masalah sekadar estetika, tapi menyangkut masa depan pariwisata, ekonomi, dan lingkungan Pohuwato.
—
Publik Mempertanyakan Integritas Aparat
Warga dan netizen di media sosial menyoroti jarak PETI Bulangita yang hanya 2 KM dari Mapolres Pohuwato sebagai bukti bahwa pengawasan seharusnya lebih mudah dan efektif.
> “Kalau jauh mungkin bisa dimaklumi, tapi ini hanya dua kilometer! Jalan kaki pun bisa sampai. Wajar kalau masyarakat mempertanyakan Kapolres, kok bisa begini terus?” ujar seorang warga.
GASSPOLL menegaskan bahwa aksi jilid III pada Senin nanti akan menjadi simbol tuntutan masyarakat atas keadilan yang selama ini tertunda.
—
Kesimpulan
Hingga hari kelima pasca tragedi, Bulangita tetap menjadi titik panas: eksavator beroperasi, limbah mengancam Pohon Cinta, saksi belum dipanggil, korban tidak diautopsi.
Masyarakat dan GASSPOLL menegaskan: tidak ada lagi toleransi bagi penundaan tindakan aparat. Alarm telah berbunyi, dan publik menuntut jawaban nyata, bukan birokrasi formal yang stagnan.
> “Ini bukan sekadar aksi. Ini panggilan sejarah bagi siapa pun yang menomorduakan nyawa dan lingkungan di Pohuwato,” tegas Imran Uno. AGC_DEBER27





