AdvertorialDaerahOpiniPemerintahanPolitikTopik Terkini

Gaji yang Tak Kunjung Cair, Pendidikan yang Kian Terkapar

AktualGorontalo. Boalemo – Kamis, 17-04-2025. Di tengah gembar-gembor rencana pembangunan dan retorika kemajuan daerah, tampaknya Pemerintah Kabupaten Boalemo lupa bahwa kemajuan tidak lahir dari mimpi kosong atau papan proyek megah, melainkan dari ruang-ruang kelas yang hidup—yang kini justru nyaris padam karena terabaikannya para penjaganya: para guru honorer.

Sejak Januari hingga April 2025, para guru honorer baik di tingkat SD maupun SMP Negeri di bawah naungan Pemda Boalemo belum juga menerima hak mereka berupa insentif. Ironisnya, janji-janji pencairan yang sempat digaungkan akan tiba pada bulan Ramadan, kini hanya tinggal gema yang tak pernah menjelma.

Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, insentif ini selalu tersalurkan secara lancar. Kini, keheningan itu berubah menjadi pertanyaan besar: ke mana arah prioritas kebijakan daerah ini?

Seorang guru honorer yang enggan disebut namanya mengungkapkan dengan getir, “Saya juga guru honorer. Sampai dengan saat ini masih setia menunggu gaji honor.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna: kesetiaan yang terus diuji oleh ketidakpastian.

Lainnya menambahkan, “Dari bulan puasa saya tunggu, sampai detik sekarang tidak ada.” Sebuah pengakuan yang mencerminkan kekecewaan dan kelelahan, bukan hanya fisik tetapi juga psikis.

Pendidikan adalah pondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Namun bagaimana bisa kualitas pendidikan di Boalemo meningkat jika hak-hak dasar guru saja diperlakukan sebagai opsional?

Guru adalah penjaga akal sehat generasi. Mengabaikan hak-hak guru sama artinya dengan menelantarkan siswa-siswa, dan lebih luas lagi: membiarkan masa depan daerah ini didefinisikan oleh ketidakpedulian.

Tentu, para pejabat daerah bisa terus berbicara tentang smart city, digitalisasi sekolah, atau transformasi pendidikan, sambil duduk nyaman di ruang ber-AC dengan seragam rapi dan kendaraan dinas. Namun biarlah catatan sejarah kelak mencatat bahwa di balik semua rencana indah itu, ada para guru honorer yang terus menanti haknya di sudut-sudut ruang kelas dengan kantong kosong namun dedikasi penuh.

Boalemo tidak kekurangan slogan. Yang kurang adalah penghargaan.

Karena sehebat apapun visi pemda, jika guru masih hidup dalam ketidakpastian, maka yang dibangun bukan masa depan, melainkan delusi kolektif.

TimRedaksi

Back to top button