Keluhan Pengendara Jarak Jauh: Antrean Panjang di SPBU Paguat Diduga Karena Modus Pengurasan BBM Bersubsidi
AktualGorontalo. PAGUAT, 03/02/2025. – Para pengendara jarak jauh yang melintas di Kecamatan Paguat mengeluhkan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat. Antrean ini diduga disebabkan oleh banyaknya sepeda motor berjenis Suzuki Thunder dengan tangki besar yang mengisi BBM subsidi secara berulang.
Menurut informasi yang dihimpun, antrean kendaraan roda dua menjadi tidak terkendali karena dominasi para pengguna Suzuki Thunder. Bahkan, meski pihak SPBU telah mencoba mengatur antrean dengan memisahkan mereka dari kendaraan lain, pemilik motor tersebut menolak aturan yang diberlakukan oleh pihak Pertamina.
Salah seorang pengendara yang ikut mengantre mengungkapkan kekesalannya terhadap situasi ini. “Torang yang sedang dalam perjalanan jauh harus menunggu lama karena dorang ba isi tangki besar dan mengantre berulang kali. Padahal dorang hanya mencari keuntungan pribadi, sementara torang benar-benar butuh BBM untuk melanjutkan perjalanan,” ujar seorang pengendara yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dugaan Modus Penyalahgunaan BBM Subsidi
Selain antrean panjang, terdapat dugaan bahwa para pemilik Suzuki Thunder ini menggunakan modus tertentu untuk mendapatkan BBM bersubsidi dalam jumlah besar. Setelah mengisi bahan bakar, mereka diduga memindahkan BBM tersebut ke tempat lain dan kembali mengantre untuk mengisi ulang.
“Saya lihat dorang pe muka itu-itu saja. Sepertinya setelah mengisi BBM, dorang ba salin ke wadah lain lalu kembali mengantre. Ini sudah bukan kebutuhan pribadi, tapi lebih ke penyalahgunaan BBM subsidi,” ungkap pengendara lain.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan di SPBU, terutama dalam hal distribusi BBM subsidi agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu demi keuntungan pribadi.
SPBU Diminta Bertindak Tegas

Para pengendara berharap pihak SPBU Paguat dan Pertamina lebih tegas dalam mengatur kebijakan pengisian BBM bersubsidi. Jika dugaan penyalahgunaan benar terjadi, maka diperlukan langkah pengawasan lebih ketat, seperti:
• Membatasi jumlah BBM subsidi yang bisa diisi per kendaraan dalam satu hari.
• Melakukan verifikasi kendaraan dan pengemudi yang berulang kali mengisi BBM.
• Menerapkan sistem pencatatan atau pengawasan dengan kamera CCTV.
• Berkoordinasi dengan aparat hukum jika ditemukan indikasi penyalahgunaan.
Jika tidak segera diatasi, situasi ini dapat merugikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM subsidi dan menciptakan kesan adanya permainan antara pihak tertentu dalam distribusi BBM.
Pihak Pertamina dan pengelola SPBU Paguat diharapkan segera menindaklanjuti keluhan ini agar tidak terus berulang dan merugikan pengguna jalan yang memiliki kebutuhan mendesak. RedTimAGC





